PERAN PENGAWAS MINUM OBAT SEBAGAI INDIKATOR KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PADA PASIEN KO-INFEKSI TB - HIV DI RSUD DOK II JAYAPURA PERIODE JANUARI 2011- SEPTEMBER 2012
Atur Tampilan
Instansi
Fakultas Biologi - Universitas Cenderawasih Papua
Etik
-
Tujuan
Untuk mengetahui profil pasien koinfeksi TB-HIV yang mendapatkan pengobatan obat anti tuberculosis (OAT) di klinik VCT RSUD Dok II Jayapura selama periode Januari 2011 hingga September 2012
Abstraksi
Papua sebagai daerah yang memiliki angka prevalensi HIV-AIDS tertinggi di Indonesia akan menghadapi infeksi Tuberculosis (TB) sebagai infeksi oportunistik terbanyak yang menyerang pasien HIV-AIDS. Keberhasilan dari pengobatan TB adalah bagaimana pasien bisa menghadapi efek samping FDC (Fixed Drug Combination) sehingga pasien tuntas meminum obat tersebut selama 6-8 bulan. Tujuan penelitian yang telah dilakukan ini untuk mengetahui faktor yang mungkin menyebabkan kegagalan pasien TB- HIV selama mendapatkan pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulose) di VCT RSUD Dok II Jayapura selama periode Januari 2011 sampai September 2012. Metode yang dilakukan pada penelitian ini merupakan penelitian retrospektif deskriptif dan data diambil dari rekam medik, kartu TB 01 dan hasil mikrobiologis pasien dengan rentang waktu Januari 2011 sampai dengan September 2012 dimana subjek penelitian adalah pasien koinfeksi TB HIV yang mengambil OAT di VCT RSUD Dok II Jayapura. Hasil yang diperoleh bahwa efek samping obat TB menjadi salah satu kendala selama pengobatan TB sehingga peranan PMO (Pengawas Minum Obat) yang berasal dari keluarga inti mampu membantu pasien menyelesaikan pengobatan TB tersebut. Dari jumlah 124 sampel yang diambil ternyata 35 pasien adalah pasien default yang mengalami efek samping obat dan tidak memiliki PMO.
Kata kunci: koinfeksi TB-HIV, efek samping, pengawas minum obat.
Selengkapnya dengan mengeklik unduh
Dapatkan dokumen lengkap untuk riset ini.