Dominasi Medis Modern Atas Medis Tradisional Suku Sumuri, Teluk Bintuni, Papua Barat
Atur Tampilan
Instansi
Departemen Antropologi; Fakultas Ilmu Budaya; Universitas Gadjah Mada
Etik
-
Tujuan
mengeksplorasi bagaimana interaksi antara budaya kesehatan yang berasal dari luar (modern) dan budaya lokal sehingga pelayanan kesehatan apa yang dominan di masyarakat akan teridentifikasi
Abstraksi
Deklarasi MDG’s 1990-2015 butir 4 dan 5 di Indonesia dinyatakan gagal akibat penurunan angka kematian ibu dan bayi hingga 3⁄4 tidak tercapai. Distrik Sumuri, Papau Barat merupakan wilayah dengan angka kematian ibu dan bayi tinggi meskipun pelayanan kesehatan gratis tersedia bagi penduduknya. Tulisan ini mengeksplorasi bagaimana interaksi antara budaya kesehatan yang berasal dari luar (modern) dan budaya lokal sehingga pelayanan kesehatan apa yang dominan di masyarakat akan teridentifikasi. Studi etnografi dengan cara tinggal bersama dengan penduduk setempat untuk melakukan pengamatan terhadap pasien Puskesmas, wawancara tokoh masyarakat, penduduk, petugas kesehatan serta mini Focus Group Discussion terhadap 4 ibu Balita dilakukan Juni 2014. Pemerintah, perusahaan minyak dan gas secara gencar mengenalkan medis modern ke penduduk Distrik Sumuri, akibatnya animo berobat ke Puskesmas tinggi dan penyembuhan alami cenderung hilang. Kelembagaan kesehatan yang baru seperti Puskesmas, Posyandu, dan petugas kesehatan seperti bidan, perawat, dokter mampu menggeser peran dukun bayi, dukun penyembuh maupun praktik pengobatan tradisional. Akibatnya relasi sosial dalam keluarga luas yang dahulu kuat menjadi melemah digantikan oleh peran bidan, perawat dan dokter. Namun, generasi tua cenderung lebih cocok dengan penyembuhan tradisional dibandingkan modern.
Selengkapnya dengan mengeklik unduh
Dapatkan dokumen lengkap untuk riset ini.