Jayapura, 29 September 2026 – Balai Labkesmas Papua melaksanakan Diseminasi Hasil Surveilans Sifilis dan Frambusia di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Kegiatan ini dilakukan secara daring sebagai bagian dari upaya penyampaian hasil surveilans, pertukaran informasi dengan pemangku kepentingan, serta pembahasan tindak lanjut berdasarkan hasil surveilans yang telah dilaksanakan.
Diseminasi dihadiri oleh Plt. Kepala Balai Labkesmas Papua, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Jayapura, Kepala Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Jayapura, Kepala Puskesmas Arso Kota, Kepala Puskesmas Ywan, Kepala Puskesmas Arso Barat, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom, Penanggung Jawab Program IMS dan Frambusia.
Kegiatan diawali dengan sambutan Plt. Kepala Balai Labkesmas Papua, dr. Antonius Oktavian, M.Kes. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwa Balai Labkesmas Papua merupakan bagian dari jejaring Laboratorium Kesehatan Masyarakat di bawah Kementerian Kesehatan yang memiliki salah satu tugas utama melaksanakan surveilans berbasis laboratorium. Surveilans tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi penyakit dan faktor risiko kesehatan di masyarakat sebagai bahan dalam mendukung upaya pengendalian penyakit.
“Diseminasi ini sebetulnya tidak hanya kami akan menampilkan datanya, tetapi ini lebih ke arah diskusi. Jadi nanti kami mohon Bapak, Ibu bisa memberikan masukan. Kemudian kita berdiskusi bersama-sama bagaimana terkait hasil surveilans dua penyakit ini, termasuk juga mau dilakukan apa selanjutnya.”
Sifilis dan frambusia menjadi salah satu fokus surveilans di Kabupaten Keerom karena kedua penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri dari genus Treponema. Sifilis dikenal sebagai great imitator karena gejalanya dapat menyerupai berbagai penyakit lain, sedangkan frambusia sering kali kurang mendapat perhatian karena manifestasinya dapat terlihat seperti luka biasa. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan deteksi dan surveilans berbasis laboratorium.
Paparan pertama mengenai Surveilans Penyakit Sifilis di Kabupaten Keerom disampaikan oleh Ika Theresia F. Sukirno, S.Tr.Kes. Dalam paparannya disampaikan adanya temuan kasus pada populasi anak dan riwayat hubungan seksual pada usia dini. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan edukasi mengenai kesehatan reproduksi, khususnya bagi kelompok usia yang rentan. Selain itu faktor lain seperti faktor cuaca dan kondisi geografis masih menjadi kendala tersendiri. Oleh karena itu peningkatannya penemuan kasus secara aktif melalui kegiatan skrining dan penjangkauan pada kelompok berisiko serta wilayah dengan akses pelayanan yang terbatas.
Selanjutnya, dr. Ni Putu Vidha Cendraswari menyampaikan hasil Surveilans Penyakit Frambusia di Kabupaten Keerom. Dari hasil surveilans menunjukkan adanya faktor risiko berupa kontak kulit dengan anak-anak, kontak dengan penderita suspek frambusia, serta penggunaan handuk secara bersama. Perlunya penguatan penemuan dan tindak lanjut kasus secara aktif serta pemprioritasan surveilans pada wilayah dan kelompok berisiko. Peningkatan edukasi dan perubahan perilaku masyarakat juga diperlukan, disertai dengan jaminan ketersediaan bahan medis habis pakai (BMHP) dan reagen pemeriksaan.
Dalam sesi tanggapan, Ibu Maria Awunim, Dinas Kesehatan Provinsi Papua menyampaikan bahwa kegiatan surveilans dan diseminasi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung tahapan menuju eradikasi frambusia dan Sifilis. Kabupaten Keerom sebelumnya telah menjadi salah satu wilayah pelaksanaan program penanggulangan frambusia, termasuk pemetaan kasus klinis dan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) frambusia selama tiga tahun berturut-turut pada 2019–2021.
Melalui kegiatan diseminasi ini, Balai Labkesmas Papua bersama Dinas Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan membahas berbagai langkah tindak lanjut, mulai dari penguatan penemuan kasus aktif, peningkatan edukasi masyarakat, pemenuhan kebutuhan reagen dan BMHP, hingga penguatan koordinasi dalam penanganan kasus. Hasil surveilans juga menjadi bahan dalam menentukan wilayah dan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam kegiatan surveilans berikutnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan hasil surveilans sebagai dasar pengambilan tindak lanjut di lapangan. Sebagaimana disampaikan dalam sambutan Plt. Kepala Balai Labkesmas Papua, hasil surveilans tidak berhenti pada pengumpulan data, tetapi perlu dikembalikan kepada pemangku kepentingan dan masyarakat dalam bentuk informasi serta langkah nyata yang dapat dilakukan bersama untuk mendukung pengendalian penyakit.